![]() |
| Profi kisah kedermawanan warga Pacarpeluk ini dimuat dalam majalah Berbagi terbitan Baznas Kabupaten Jombang. |
[Pacarpeluk,
NUP] – Mbah Munarah, demikian perempuan paruh baya ini biasa dipanggil.
Ia tinggal di dusun Pacar desa Pacarpeluk. Di saat musim pemeliharaan tanaman
padi, ia ikut bekerja dadak (membersihkan rumput yang ada di antara
tanaman padi) di sawah.
Saat jurnalis nupacarpeluk.com bertandang ke rumahnya, ia baru saja datang dari
sawah. Pakaian yang dikenakannya masih berlepot tanah lumpur sawah. Begitu juga
dengan kedua kakinya. Ia pun minta waktu sebentar untuk mandi agar nyaman
menemui tamunya itu.
Mbah Munarah adalah salah satu warga Pacarpeluk yang
istimewa. Meskipun hidup pas-pasan, ia adalah salah satu donatur tetap UPZIS
PRNU Pacarpeluk sejak dideklarasikannya Gerakan Pacarpeluk Bersedekah pada 21
April 2017 hingga sekarang.
"Lha nek mung limangatusan ben dino, kulo ngge mboten
kabotan. Kulo ngge pingin nggolek sangu mati. (Jika
hanya mengisi Lima Ratus Rupiah sehari, maka saya ya tidak keberatan. Saya
ingin mencari bekal mati. )", kenang Sri Utami, petugas UPZIS PRNU
Pacarpeluk, menirukan ucapan perempuan tua itu saat pertama kali minta kaleng
sedekah yang dikelolanya. Sejak saat itulah Mbah Munarah rutin tiap hari
mengisi kaleng koin sedekah dari sisa uang belanja.
Tiap bulan petugas UPZIS PRNU Pacarpeluk mengunjungi rumah
perempuan yang tidak memiliki anak itu, untuk mengambil sedekahnya. Kaleng koin
sedekahnya itu selalu terisi. Meskipun jumlahnya bervariasi tiap pengambilan,
namun ia terus istiqomah mengisinya sesuai dengan kemampuan.
Sebagai donatur (munfiq) Mbah Munarah termasuk salah
seorang penerima Kartu Pacarpeluk Sehat (KPS) yang dikelola oleh UPZIS PRNU
Pacarpeluk. Dengan kartu ini, ia bisa berobat rawat jalan di Klinik Pratama
Madinah tanpa dikenakan biaya, karena telah ditanggung melalui pengelolaan
hasil koin sedekah itu.
Saat ditanya apakah sudah pernah memanfaatkan kartu itu
untuk berobat, jawaban Mbah Munarah sangat mengagetkan. "Kulo dereng nate ndamel kartu niku.
Alhamdulillah wiwit melu sedekah kulo sehat mboten nate sakit. Rejeki kulo
lancar, alhamdulillaah. (Saya belum pernah menggunakan kartu itu.
Alhamdulillaah sejak ikut bersedekah saya tetap sehat, belum pernah sakit.
Rezeki saya juga lancar.", jelasnya dengan polos.
Kisah Mbah Munarah ini memberi pelajaran kepada siapa saja bahwa
berbagi melalui sedekah adalah kemuliaan. Balasannya adalah urusan Allah swt
sendiri kepada hambaNya. Ada berbagai cara unik Allah SWT membalas sedekah
hambaNya. Ia memberi kesehatan kepada Mbah Munarah, sehingga ia tidak perlu
menggunakan KPS yang dimilikinya. Meskipun bekerja serabutan, ia merasakan
bahwa rezekinya selalu lancar.
Sedekah memang ungkapan syukur kepada Allah SWT yang penuh
keajaiban. Siapa yang mau bersyukur, pasti akan mendapat tambahan nikmat yang
lebih. Siapa yang tidak mau bersyukur, maka Allah SWT mengambil nikmat itu
dengan berbagai caranya.
Jika Mbah Munarah telah membuktikan keajaiban itu, maka
apakah hal ini masih tidak menggerakkan kita untuk bersama-sama ambil bagian
sebagaimana yang dilakukan oleh Mbah Munarah itu? Tunggu apa lagi, mari
membuktikan sendiri keajaiban itu pada pada kehidupan kita masing-masing,
sebelum akhirnya tinggal penyesalan yang tiada bermakna! {abc}

0 Comments