![]() |
| Ketua PRNU Pacarpeluk berbagi pengalaman menggerakkan jamaah dan jam'iyyah dengan para Keluarga Besar NU Tejo. |
[Pacarpeluk, NUP] – Keluarga Besar NU Tejo, Mojoagung, Jombang akhirnya benar-benar
hadir di Rumah Pergerakan NUP (Ahad, 9/8/2020). Acara ini dikemas dalam acara
Kunjungan Shilaturrahmi antar sesama Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama. Belasan kader
penggerak NU Tejo ini terdiri dari unsur NU, Muslimat, Fatayat dan GP ANSOR
serta UPZISNU.
Muhammad Na’am yang menjadi juru
bicara rombongan ini menyampaikan bahwa maksud kedatangannya adalah untuk
menggali pengalaman menggerakkan jamaah dan jam’iyyah NU Pacarpeluk. “Meskipun
usia mas Adien masih muda, namun kami tidak gengsi untuk menggali belajar dari
pengalamannya di NU Pacarpeluk. Apalagi kami adalah sama-sama alumni PKPNU di
Kalibening.”, ucap ketua PRNU Tejo itu.
Pengalaman UPZISNU Pacarpeluk dalam
mengelola zakat, infak dan sedekah menjadi inti pembahasan yang paling intensif
digali dalam kunjungan tersebut. Ketua PRNU Tejo ini juga mengungkapkan bahwa
jam’iyyahnya telah membuat kepengurusan UPZISNU dan ingin segera bergerak
manjalankan fungsinya. Oleh karena itu, ia ingin belajar dari pengalaman
UPZISNU Pacarpeluk yang telah lebih dahulu bergerak.
Dalam forum ini, Ghufron menyampaikan
pengantar pengenalan aksi UPZIS NU Pacarpeluk. Ketua UPZISNU Pacarpeluk secara
global memaparkan program-program unggulan yang telah dilakukan oleh unit yang
dipimpinnya itu. Ia juga
memaparkan bahwa pengumpulan dan pengelolaan koin infak mengikutsertakan
seluruh elemen masyarakat Pacarpeluk yang majemuk.
Penjelasan secara lebih detail kemudian
dipaparkan oleh Nine Adien Maulana selaku ketua PRNU Pacarpeluk yang menjadi
penanggung jawab UPZISNU di desa ini. “Jika kepengurusan telah terbentuk, maka
yang paling penting dirancang dan disiapkan adalah tim lapangan yang
mengedarkan dan akhirnya mengambil isi kaleng koin infak sedekah.”, ujarnya.
Tim lapangan dalam bidang fund rising
ini memang menjadi ujung tombak kesuksesan UPZISNU, karena merekalah yang menentukan
apakah koin infak sedekah itu bisa terkumpul atau tidak. “Kalu untuk program
penyaluran, saya kira itu sangat mudah dan ringan. Kita bisa meniru yang lain
dengan mudah.”, ujarnya.
Dalam forum diskusi yang penuh canda
ini, Nine banyak membuka rahasia dapur NUP agar bisa dicitrakan positif oleh
publik. Diantaranya adalah dengan memanfaatkan media online dan media sosial
serta bersinergi dengan para khatib atau tokoh-tokoh yang biasa berbicara di
publik.
“Menggunakan media massa online dan
media sosial juga ada tekniknya agar publik menangkap pesannya sebagai berita
obyektif keNUan.”, lanjutnya. Alumnus PKPNU Kalibening ini juga memaparkan
bahwa banyak media sosial lebih terkesan sebagai media publikasi dan selfi
pengurus NU daripada kegiatan dan realisasi program jam’iyyah. Oleh karena itu,
teknik pengambilan foto, video dan penulisan narasi berita harus diolah
sedemikian rupa agar bisa menarik perhatian publik. {abc}

0 Comments