Allah SWT telah membekali manusia
dengan al-Quran sebagai kitab panduan hidupnya di dunia. Ia telah membuat
skenario kehidupan manusia ideal dia dalamnya. Segala hal yang berkaitan
keselamatan hidupnya telah diatur di dalamnya. Siapa yang menjalankan hidupnya
sesuai dengan pedoman, ia pasti selamat. Siapa yang menyimpang darinaya pasti
tersesat dan celaka.
Al-Quran berfungsi menjadi petunjuk
bagi orang-orang bertakwa yang aktif mencarinya berdasarkan ilmu standar yang
teruji, bukan atas kreasi hawa nafsu intelektualnya semata. Dengan sikap itu
mereka akan ikhlas menerima petunjuk dari Allah SWT. Bukan sebaliknya, merasa
lebih tahu daripada pengetahuanNya dengan berbagai dalih beragam teori atas
nama intelektualisme.
Salah salah satu ilmu standar yang
dibutuhkan dalam menggali dan mencari petunjuk di dalam kitab al-Quran adalah
ilmu tafsir. Ini adalah ilmu untuk menggali petunjuk al-Quran menurut kehendak
Allah sesuai kadar kemampuan yang diupayakan manusia. Dengan ungkapan lain,
ilmu ini mengupayakan menghilangkan samarnya petunjuk ayat yang tertulis untuk
memperoleh makna sebenarnya yang dimaksud.
Ilmu ini sangat penting dipelajari
dan dikuasai oleh umat Islam yang ingin mendapatkan petunjuk di dalam al-Quran
yang berbahasa Arab itu. Karena wahyu Allah SWT telah tertulis, maka baik orang
Arab maupun ’Ajam (luar Arab) tetap butuh ilmu ini untuk
mendapatkan petunjuk sebagaimana yang dikehendaki olehNya. Apapun bahasanya,
seringkali apa yang tertulis tidak selalu sama dengan makna yang dikehendaki
sebenarnya.
Sebagai ilustrasi dengan menggunakan
bahasa Indonesia, ada orang dengan nada keras mengancam berteriak, bahkan
mungkin sambil menunjuk, ”Makan!”. Maksud orang itu sebenarnya adalah larangan
makan. Orang yang dilarang itu juga mengerti bahwa yang dimaksud adalah
larangan makan, meskipun yang diteriakkan adalah, ”Makan!”. Orang yang
diteriaki itu pun tidak berani memakan, meskipun teriakan yang diterimanya
adalah, ”Makan!” bukan ”Jangan makan!”.
Kesamaran dan kerancauan makna baru
muncul setelah teriakan itu disalin ke dalam bahasa tulisan. Kesamaran dan
kerancauannya semakin kuat ketika tulisan itu dibaca oleh orang yang tidak
mengetahui konteksnya, terlebih ia baru membacanya setelah sekian ribu tahun
telah munculnya tulisan itu. Tentu sangat bermasalah jika kata itu dimaknai
secara bahasa apa adanya.
Dengan ilustrasi di atas, kita bisa
menyimpulkan bahwa orang luar Arab yang tidak sehari-hari berkomunikasi dengan
bahasa Arab tentu lebih sangat membutuhkan ilmu tafsir al-Quran. Bagaimana pun
juga orang itu pasti berjarak agar panjang dalam memahami bahasa al-Quran
secara bahasa. Jarak itu pun semakin jauh untuk mencapai makna yang dimaksud
sebenarnya.
Didorong tanggung jawab akademis dan
keulamaan Dr. Muhammad Afifuddin Dimyathy, MA. menyusun sebuah kitab yang
diberi judul, Ilmut Tafsiir: Ushuuluhu wa Manaahijuhu yang
bisa diterjemahkan bebas ”Ilmu Tafsir: Dasar-dasar dan Metodologinya.”
Awalnya, kitab ini disusun demi
memenuhi kebutuhan para mahasiswanya dalam mempelajari Manhaj Tafsir sebagai
mata kuliah yang berdiri sendiri di Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Pascasarjana IAIN Tulungagung yang diampunya. Ternyata kandungan materi yang
disusunnya itu sangat lengkap. Ada empat belas materi dasar-dasar dan
metodologi tafsir yang dibahasnya, sehingga kitab ini sangat layak salah satu
referensi utama dalam belajar ilmu tafsir.
Empat belas materi itu adalah sebagai
berikut: 1. Prinsip Dasar Penafsiran, 2. Syarat-syarat Penafsiran), 3. Sejarah
Tafsir al Quran, 4. Sumber-sumber Penafsiran, 5. Ijmak dalam Tafsir, 6.
Perbedaan dalam Penafsiran, 7. Orientasi dan Corak Tafsir, 8. Metodologi Tafsir,
9. Tehnik Penafsiran, 10. Sanad-sanad Tafsir, 11. Naskah-Naskah Tafsir, 12.
Kaidah-kaidah Tafsir 13. Kaidah-kaidah Tarjiih dalam Tafsir, dan 14. Ad Dakhiil
dalam Tafsir.
Paparan kandungan kitab ini
menyiratkan sikap akomodatif dan kehati-hatian penyusunnya. Ia tidak anti
terhadap wacana baru dalam tafsir, namun tidak semuanya diamini apa adanya. Hal
ini sangat tampak dalam pembahasan kedelapan tentang Metodologi Tafsir. Gus
Awis, demikian panggilan akrab penyusun kitab ini, memberi porsi pembahasan
yang lebih panjang daripada sub pembahasan yang lain.
Ia memaparkan beberapa manhaj naqli
seperti manhaj qur'ani, bayaani, al qiroo'at al mufassiroh, dan atsari.
Setelah itu dipaparkan juga beberapa manhaj aqli seperti manhaj kalaami,
lughowi, ilmi, ijtimaa'i, shuufi, adabi, dan beberapa metodologi
Barat seperti hermeneutika, linguistik dan singkronik/diakronik. Dengan sikap
itu, pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang ini akhirnya bisa
dengan tegas menyatakan bahwa ini bisa terima dalam khazanah ilmu tafsir dan
itu itu tidak bisa diterima.
Kesan itu semakin kuat dapat
ditangkap dari paparan terakhir kitab ini. Penyusun kitab ini membahas Ad
Dakhiil dalam Tafsir, yaitu keterangan-keterangan atau riwayat-riwayat yang
baru muncul dan populer setelah wafat Rasulullah SAW kemudian menyusup dalam
khazanah dan wacana tafsir. Sedemikian populernya, hingga banyak kaum muslimin
yang menerimanya sebagai bagian dari khazanah tafsir baku, namun sebenarnya ia
tidak layak disebut sebagai tafsir.
Biasanya riwayat susupan ini berasal
dari hadits-hadits palsu (mau’dhu’) dan kisah-kisah Israiliyyat yang
diulang-ulang dalam komunikasi verbal melalui ceramah atau tutur tinular.
Sedemikian massifnya, hingga tanpa disadari masuk dalam pembahasan kitab-kitab
tafsir. Susupan-susupan itu pun akhirnya baru ketahuan setelah dianalisis dari
aspek periwat dan sumbernya.
Dengan pembahasan semacam ini, maka
tidak berlebihan jika kitab ini layak disebut sebagai pengantar Ilmu Tafsir
Akomodatif yang layak digunakan sebagai referensi bagi siapa saja yang akan
mempelajari ilmu tafsir al-Quran. Ia tetap mengacu pada batasan-batasan baku
rumusan ulama tafsir otoritatif terdahulu, namun tetap membuka peluang kreasi
baru yang sejalan dengan syariat. Hal ini menegaskan bahwa ia tidak ingin
mengajak orang lain menafsirkan al-Quran menurut keinginannya sendiri.
Data buku
Judul Buku : ’Ilmut Tafsiir: Ushuuluhu wa
Manaahijuhu
Penulis :
Dr Muhammad Afifuddin Dimyathi, MA
Penerbit : Lisan Arabi
Alamat Penerbit :
Sidoarjo, Jawa Timur
Cetakan Pertama : 2015
M / 1436 H
Jumlah Halaman : 289
halaman
Peresensi: Nine Adien Maulana, Ketua
Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Pacarpeluk dan Guru PAI SMAN 2 Jombang.
Artikel ini juga telah dimuta dalam NU Online pada Senin, 06 November 2017 09:00

0 Comments