Ahad (24/9/2017), saat ngaji Bulughul Marom di Masjid Baitus Solihin Candimulyo, KH Badrul Munir menjelaskan tentang aqiqah. ’’Aqiqah ini artinya ndablek,’’ kata beliau.
Akar kata aqiqah sama dengan uquq. Biasanya dipakai dalam kalimat uququl walidain, yang artinya berani sama orang tua. Alias tidak berbakti kepada orang tua. ’’Diaqiqahi itu biar anak tidak nakal,’’ tuturnya.
Rabu (11/10/2017), saat rutinan manakib Jawahirul Ma’ani di Masjid Agung Baitul Mukminin Alun-Alun Jombang bersamaan aqiqahnya Ubay Mubarok, putra Ustad Aminudin, Kiai Fathurahman Kepuh Kembeng (Gus Tuh) menjelaskan bahwa aqiqah termasuk cara nirakati anak.
’’Kalau ingin punya anak baik, syaratnya dua. Ditirakati dan banyak sedekah,’’ tuturnya. Banyak orang biasa punya anak hebat dan jadi ulama karena orang tuanya rajin tirakat dan banyak sedekah.
Mbah Khalil Bangkalan misalnya. Ayahnya, Kiai Latif, sangat kaya. Setiap panen dia hanya mengambil 10 persen. Sisanya disedekahkan kepada para ulama di tanah Madura maupun Tapal kuda. Sedemikian banyaknya yang dikirimkan, cikar yang mengantar baru merampungkan tugas pada saat musim panen berikutnya tiba.
Imam Ghozali, ayahnya seorang tukang tenun dan penjual kain tenun di pasar. ’’Kemanapun ada majelis taklim, ayah Imam Ghozali selalu minta doa kepada kiainya agar putranya jadi ulama. Doa para alim itu terkumpul dalam diri Imam Ghozali sehingga sangat alim bahkan bergelar hujjatul Islam,’’ paparnya.
Salah satu bentuk nirakati anak yang banyak dilakukan yakni dengan bancakan saat weton anak. Saya pernah membaca di majalah Aula, ibunda KH Ali Mashan Musa dan Ali Maskur Musa cerita, setiap weton anak-anaknya beliau selalu puasa, bancakan dan mengadakan khataman Quran.
Wali Kota Mojokerto KH Mas’ud Yunus cerita, sejak kecil dirinya yatim dan miskin. Saudaranya banyak. Namun ibunya rajin tirakat. Diantaranya dengan mendoakan. Setiap usai shalat, setiap anak dikirimi fatihah satu kali. Ketika sampai ayat iyyaka na’budu wa iyyaka nastain diulang 11 kali sambil membatin sang anak. Kini, dia dan semua saudaranya menjadi kiai dan bu nyai.
Gus Tuh lalu cerita Nabi Ibrahim. ’’Nabi Ibrahim ini paling sukses dalam pengkaderan.’’ Semua Nabi setelahnya adalah keturunannya. Nabi Muhammad SAW dari jalur Ismail. Nabi Isa dari jalur Ishak. ’’Para ulama dan kiai seluruhnya adalah keturunan Nabi Ibrahim dari jalur Nabi Ismail. Para pendeta dan rohib keturunan Nabi Ibrahim dari jalur Nabi Ishak.’’
Ketika ditanya kunci suksesnya, Nabi Ibrahim menyampaikan tiga hal. Pertama, selalu mendahulukan Allah dibanding yang selain. ’’Ada panggilan shalat bersamaan panggilan bos, yang didahulukan adalah panggilan Allah.’’
Kedua, Nabi Ibrahim tidak pernah takut dengan semua hal yang telah dijamin Allah. Rezeki, jodoh dan umur telah ditentukan oleh Allah. Sehingga tidak akan menghalalkan segala cara untuk meraih harta. Tidak akan menghalalkan segala cara untuk memperoleh jodoh.
Ketiga, Nabi Ibrahim selalu sarapan dan makan sore dengan mengajak tamu. ’’Ada orang lewat dipanggil diajak makan. Bahkan jika tidak ada orang lewat, Nabi Ibrahim berjalan berkilo-kilo meter untuk cari teman diajak makan.’’
Ini beda dengan orang sekarang. ’’Kalau sekarang, cari teman makan agar kita ditraktir. Menerima sedekah sepertinya enak. Padahal itu memendekkan umur,’’ jelasnya. {mam}

0 Comments