Salah satu ajaran Islam yang menurut
saya sangat populer di kalangan masyarakat Jawa adalah membaca shalawat nabi.
Setiap saya pamit bebepergian jauh, orang tua saya senantiasa mengingatkan agar
memperbanyak membaca shalawat selama dalam perjalanan. Ternyata tidak hanya
orang tua saya saja yang berpesan hal itu. Saya juga sering menjumpai hal
ini pada orang lain.
Saya juga menemukan bentuk-bentuk
ritual pembacaan shalawat Nabi Muhammad SAW. Ada tradisi pembacaan kitab
ad-Diba’iy, al-Barzanji, Simthud Durar, Dalailul Khairat, dan lain-lain. Ada
lagi bukti lagi yaitu dibacanya shalawat Nabi pada acara aqiqah, potong rambut
bayi dan khitanan. Tidak hanya itu, pada saat mempertemukan pengantin laki-laki
dengan pengantin perempuan, bacaan shalawat Nabi ini jarang ditinggalkan.
Biasanya pembacaannya disertai dengan irama rebana yang dipukul bertalu-talu.
Ada lagi budaya unik membaca
shalawat Nabi. Dalam setiap acara hajatan, meskipun acara telah selesai, para
tamu undangan tidak akan beranjak meninggalkan tempat acara sebelum
dibacakannya,allaahumma shaalli ‘alaa sayyidinaa muhammad. Setelah shalawat
dibacakan dengan keras oleh sang imam acara, maka secara serentak mereka pun
beranjak meninggalkan tempat acara.
Dengan sedikit bergurau saya
mengatakan kepada teman-teman bahwa tenyata shalawat itu pada masyarakat Jawa
memiliki dua makna, yaitu makna ritual dan makna kultural. Sebagai makna
ritual, shalawat dipahami sebagai salah satu do’a untuk Rasulullah SAW yang
juga meluberkan barokah kepada pembacanya. Sebagai makna kultural shalawat
dipahami sebagai penutup acara dan pembubar jama’ah.
Ada kasus menarik di dusun saya.
Dusun saya memang menjadi pusat jama’ah salah satu ormas yang tidak suka dengan
ritus dan kultur shalawat semacam itu. Alasannya klasik, yakni dianggap
mengada-adakan sesuatu yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah SAW, alias
bid’ah. Padahal, sebelum adanya ormas tadi ritus dan kultur shalawat telah ada
di sana.
Suatu waktu, warga dusun diundang
dalam suatu acara yang diselenggarakan oleh salah satu jama’ah ormas tersebut.
Setelah seluruh rangkaian acara selesai, dan MC sudah menutupnya dengan
mengucap salam, ternyata seluruh tamu tetap saja tidak beranjak dari tempat
duduknya. Sang MC pun tampak salah tingkah dan kebingungan. Akhirnya, dengan
bahasa basa-basi MC pun berkata, Karena acara telah selesai, maka kami
persilahkan bila Bapak-bapak jika menghendaki pulang atau tetap tetap berada di
sini. Baru setelah itu, semua tamu bubar.
Di lain kesempatan hal seperti itu
pun terjadi berulang-ulang, sehingga membuat tamu undangan tidak nyaman. Tanpa
menunggu basa-basi MC, salah seorang tamu undangan yang agak pemberani langsung
membaca allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa muhammad dengan keras. Serentak para
tamu menjawab allahhuma shalli ‘alaih … dan langsung beranjak meninggalkan
tempat.
Dari kejadian-kejadian seperti ini,
akhirnya mereka pun menyesuaikan diri. Setiap kali mereka mengakhiri acara dan
bermaksud membubarkan jama’ah, maka mereka pun dengan percaya diri ikut membaca
bacaan shalawat sebagaimana pada umumnya
.Mengapa shalawat menjadi sangat
populer di kalangan akar rumput masyarakat Jawa? Tentunya hal ini tidak bisa
dilepaskan jasa para pendakwah terdahulu. Secara sederhana kita bisa menduga
bahwa mereka adalah termasuk orang-orang yang suka dengan ritus pembacaan
shalawat dan mendakwahkannya kepada masyarakat Jawa.
Lebih hebat lagi, mereka mampu
memasukkan ajaran Islam dalam budaya masyarakat, sehingga ajaran Islam itu
dapat diterima tanpa penuh kecurigaan. Bahkan, keduanya tampak berinteraksi
secara mutual. Masyarakat menerimanya tanpa terjadi keterkejutan budaya
(cultural shock). Ini adalah prestasi yang patut kita apresiasi dan teladani.
Shalawat dalam bentuk budaya memang
telah marak di tanah Jawa, lalu bagaimanakah sebenarnya shalawat itu jika
ditinjau dari ajarannya? Dalam QS. Al-Ahzab [33]: 56 Allah SWT berfirman yang
artinya: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah
salam penghormatan kepadanya.
Shalawat Allah SWT kepada Muhammad,
berarti Allah SWT memberi berkah, penghargaan, dan menempatkan Rasulullah SAW
yang mulia disisi-Nya. Shalawat Malaikat kepada Nabi Muhammad SAW adalah
memberi salam penghormatan atas diangkatnya kemuliaan dan kerasulan Muhammad
SAW, sebagaimana penghormatan malaikat kepada Nabi Adam AS.
Dikarenakan Allah SWT selalu
memberikan shalawat (keberkatan, kemuliaan, kebesaran), maka umat Muhammad
sudah selayaknya mengharapkan agar shalawat Allah itu tetap langgeng untuk
beliau dan keluarganya. Kalau kita jujur, sebenarnya shalawat kita itu tidak
ngefek bagi Nabi Muhammad SAW, karena beliau telah mendapatkan curahan rahmat
dan keberkatan itu langsung dari Allah SWT selamanya.
Kalau demikian adanya mengapa kita
bershalawat kepadanya? Bagi orang yang berkenan menerima konsep Nur Muhammad
dalam paham kosmologinya, maka Nabi Muhammad SAW dianggap sebagai sentral
semesta fisik dan metafisik. Seluruh elemen lahir dan batin makhluk ini
merupakan refleksi dari cahayanya yang agung.
Dengan bershalawat, kita bersyukur
terhadap segala jasanya yang menuntun kita pada jalan kebenaran seperti yang
termuat dalam QS. al-Ahzab [33]: 43 Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan
malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari
kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada
orang-orang yang beriman.
Selain itu bershalawat juga mendidik
kita agar selalu bersikap rendah diri dan tidak mengandalkan amal perbuatan
untuk meraih surga karena masuknya hamba ke dalam surga dikarenakan rahmat-Nya,
bukan akibat perbuatannya.
Disebutkan dalam sebuah riwayat dari
Umar ibn Khattab bahwa nabi Adam ketika bertaubat setelah melanggar perintah
Allah, taubatnya tidak langsung diterima. Namun, setelah ber-tawassul dengan
nama Muhammad, doa dan taubatnya dikabulkan oleh Allah SWT. Allah SWT kemudian
berfirman: “Kalau saja tidak karena Muhammad, niscaya Aku tidak akan
menciptakanmu.”
Dengan demikian, bershalawat dan
bersalam merupakan bentuk lain dari proses menuju jati diri kehambaan yang
hakiki di hadapan Allah SWT. Karena Nabi Muhammad SAW adalah manusia paripurna,
maka segala doa dan upaya untuk mencintainya, pada hakikatnya kembali kepada
orang yang mendoakan.
Bershalawat dan bersalam kepada
beliau, juga ibarat menuangkan air ke dalam gelas yang sudah penuh air. Pasti
air tersebut akan tumpah. Tumpahan itulah kembali pada diri kita, yakni
tumpahan Rahmat dan Anugerah-Nya melalui ‘gelas emas’ Kekasih-Nya, Muhammad
SAW. Inilah diantara alasan mengapa shalawat menjadi sangat populer bagi
umat Islam khususnya di bumi Nusantara ini.
Nine Adien Maulana,M.Pd.I
Ketua PRNU Pacarpeluk, Jombang dan Guru PAI SMA Negeri 2 Jombang.

0 Comments