Oleh: Didin A Sholahudin
Wakil Ketua PCNU Jombang
Blunder Trump
capai klimaksnya! Setelah Clinton, Bush, Obama yang hanya berani berteriak saat
kampanye, Trump justru melangkah lebih jauh; mendeklarasikan Jerusalem / Al
Quds sebagai ibu kota Israel!
Langkah
"strategis" Amerika Serikat (AS) ini jelas untuk mengukuhkan hegemoni Yahudi terhadap
Al Quds dan secara simultan melakukan perampasan hak hak warga Palestina. Dan
ini merupakan kesewenangan akut, tidak hanya untuk warga Palestina; tetapi
seluruh umat muslim sedunia.
Ada tiga alasan
mengapa umat muslim harus marah dan mengutuk aksi koboi Trump ini. Pertama, Di
Jerusalem tepatnya di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa) yang merupakan tempat
persinggahan Rasullullah Saw sebelum mi'raj ke Sidratul Muntaha untuk menerima
perintah sholat. Di Masjidil Aqsa pula, kiblat pertama umat muslim diputuskan,
selama 16 bulan sebelum berubah menghadap Ka'bah.
Kedua, Palestina
adalah tanah tempat dimana banyak nabi dilahirkan, menerima risalah, hingga
dimakamkan. Sejarah mencatat Palestina adalah bumi nabi dimana di situlah jejak
Islam berkumandang dahsyat. Nabi Isa, Dawud, Musa, Sulaiman, Ibrahim, Ishaq,
Yusuf adalah deretan Nabi yang menjejakkan dakwahnya di Palestina. Itulah
mengapa Khalifah Umar Bin Khatab menyebut Palestina sebagai wathanul anbiya
(negeri para nabi) dan tanah wakaf umat muslim.
Ketiga, aksi
Trump jelas merupakan penjajahan kemanusiaan yang sistematis dan terstruktur.
Lahirnya "Resolusi Haram 181" yang diratifikasi Perserikatan Bangsa Bangsa
(PBB) dan memunculkan Israel sebagai
negara merdeka pada 14 Mei 1948, adalah bukti sistematis yg sulit dibantah bahwa
AS dan sekutu Yahudinya ingin lenyapkan Palestina dan juga situs sejarah Islam
dari muka bumi.
Di sinilah Nahdlatul
Ulama (NU) seharusnya mampu melakukan peran strategisnya. Pemerintah telah
lakukan langkah konkret. Jalur diplomatik yg dilakukan Menteri Luar Negeri ke
Kedubes AS dan komunikasi Presiden ke pimpinan negara OKI, Liga Arab, dan PBB
untuk mendesak Trump membatalkan keputusannya telah berjalan.
Maraknya
solidaritas masyarakat dunia melalui aksi damai turun ke jalan, penggalangan
bantuan dana untuk Palestina, hingga seruan doa bersama, serta seruan boikot
produk AS adalah bukti sahih bahwa masyarakat dunia juga meradang dengan
kelakuan Trump. Palestina telah memunculkan empati bersama.
Tapi itu semua
belumlah cukup. Harus ada aksi solidaritas yang terpimpin, terstruktur, dan
berjalan massif dalam satu misi yg sama. Dan, di sinilah peran strategis NU
menemukan titik temunya.
NU yang mempunyai
kekuatan jejaring internasional dan struktur organisasi sampai tingkat desa,
harus digerakkan dengan isu besar bersama menyuarakan kemerdekaan Palestina.
Di satu sisi,
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
harus melakukan lobi internasional ke sejumlah negara Arab untuk menundukkan
AS. Jika Arab Saudi saja bisa takluk untuk mengganti Wahabi dengan Aswaja,
mengapa tidak PBNU menggunakan pengaruhnya, menggunakan Arab Saudi untuk
menekan AS. Bukankah AS sangat berkepentingan dengan Arab Saudi.
Di sisi lain,
PBNU harus menggunakan kekuatan jaringan organisasinya. Instruksikan secara
berjenjang seluruh tingkatan pengurus NU
dan Banom; untuk lakukan aksi dengan Doa Bersama, Qunut Nazilah, dan aksi damai
turun jalan dalam waktu bersamaan di seluruh kota, bahkan hingga seruan
boikot produk AS.
Sudah saatnya NU
unjuk gigi dan melakukan shock terapy tidak saja pada umat
muslim Indonesia, tapi muslim sedunia; bahwa NU berada dalam garda terdepan
untuk membela Palestina. Media daring atau medsos harus dipenuhi dan diviralkan
kampanye massif dan seragam dari PBNU. Isu Palestina harus mampu membawa NU
menguasai trending topik dunia di ranah maya.
Inilah momentum
para kyai dan ulama NU memegang komando dan memimpin umat Islam Indonesia, yang
akhir akhir ini berserak akibat isu khilafah dan pilkada Jakarta, untuk
menyuarakan rasa kepedulian atas Palestina dan Masjid Al Aqsa.
Kesewenangan
Trump bisa menjadi momentum kebangkitan NU untuk memimpin umat Islam Indonesia,
bahkan dunia; dan membuktikan kepada rakyat Palestina, bahwa NU adalah saudara
yang tak mungkin meninggalkan saudaranya terluka. Sama halnya ketika NU berteriak
NKRI Harga Mati; Al Quds pun adalah Harga Mati untuk Palestina! {abc}

0 Comments